Selasa, 01 Agustus 2017

Pameran Seni Rupa CommuniArtIsm



  ART EXHIBITION 

Projek Seni SMSR Surabaya CommuniArtIsm
      Pameran 3 Angkatan SMSR Surabaya 

4 - 8 Agustus di Galeri PRABANGKARA
Taman Budaya Jawa Timur 
Jl. Gentengkali no. 85 , Surabaya





COME AND JOIN !








CommuniArtism
Kelompok Seni Rupa 3 Angkatan SMK Negeri 12 Surabaya (SMSR)
Pengantar

                                                                                    Communication – Art – Ism
                                                                                                ( Nabila Warda Safitri )


“The value of  Art  is how we understanding that Art is communicated something important , Art is way of communicating vision and experience so that it reaches beyond a single moment in time . What fills our hearts and spills over must be shared –Stormy Bailey_”

Aktivitas Pameran agaknya menjadi bagian penting di bidang Seni Rupa karna dapat  meningkatkan eksistensi berkesenian seperti halnya yang dilakukan oleh para seniman di era modern ini dimana terjadilah proses “pencanggihan” dengan lahirnya karya – karya baru , berbagai wacana, berbagai pemikiran dan interaksi sehingga karya seni yang di visualisasikan.

 Dalam kondisi tersebut sebetulnya menyiratkan mulai terbentuknya instiusi seniman modern mengikuti Institutional Of Art Theory karena jelas ada usaha menempatkan seni dan non seni atau siapa yang pantas berada di posisi tertinggi atau yang patut di catat dalam Seni Rupa . Karna “untuk melihat sesuatu sebagai seni , kita membutuh sesuatu yang tak terjangkau oleh mata – sebuah suasana teori artistik, pengetahuan tentang sejarah seni : sebuah Artworld” (Danto,1964:41) dalam lingkup seni Artworld  mengacu pada institusi sosial yang lebar dimana karya seni itu di tempatkan oleh karena itu pameran seni menjadi media komunikasi yang efektif dalam lingkup Artworld tersebut. 

Dengan demikian di bentuklah pameran seni yang bertema COMMUNIARTISM , yang terbentuk dari perkumpulan 3 Angkatan SMK Negri 12 yang bergeliat dalam bidang kesenian , yang tentu saja untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk saling membantu membentuk diri mereka masing – masing anggotanya  menjadi seniman selain itu pameran seni ini juga  merupakan sebuah pondasi awal terbentuknya ikatan yang baik antar angkatan SMSR.

Gagasan dari tema yang di ambil adalah COMMUNIARTISM dimana nama communiartism ini diambil dari 3 rangkai kata yaitu Communication – Art – Ism . yang pertama merupakan kata ” Communication “, komunikasi itu sendiri merupakan sebuah proses penyampaian informasi dapat berbentuk pesan , ide , gagasan dari satu pihak ke pihak yang lain , yang kedua “Art” , apa itu seni ? seni merupakan suatu bentuk ekspresi yang di curahkan dalam jiwa manusia yang disampaikan dalam berbagai bentuk dan di terima oleh indera, namun apakah pengertian itu benar karena sebenarnya pengertian seni sendiri abstract karena pendapat orang tentang seni itu berbeda – beda ada juga yang mengatakan bahwa seni itu suatu keindahan padahal  “ seni tak hanya   menampilkan ‘keindahan’ karena di  melainkan terutama ‘kebenaran’ realitas kehidupan ruh atau hati manusia. Seni dapat menyingkapkan aneka lapisan kehidupan yang pelik : lapisan fisik , emosi , intelek , instuisi , hingga lapisan batin terdalam dan terumit” (sugiarto,2013 : 39). Yang ketiga “ism / isme” merupakan kata imbuhan yang bisanya terletak di akhir kata , Akhiran ini menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan.

Jadi dari ketiga rangkai kata tersebut dapat kita mengerti bahwa maksud dari tema yang kita ambil ComuniArtism yaitu suatu paham tentang komunikasi seni.  seni di yakini sebagai jenis komunikasi yang khusus. Komunikasi sendiri bukan merupakan keperluan seni, seni tidak sama dengan komunikasi, tetapi semua seni adalah komunikasi. Dalam situasi yang berhubungan dengan keilmuan, seni adalah bagian yang tetap dari komunikasi. Apa yang membuat seni berbeda dan menjadi spesial adalah karena komunikasi seni itu memiliki suatu nilai. Orang – orang mempertimbangkan sebuah komunikasi seni ketika itu merupakan suatu hal yang berjasa atau bisa juga pengalaman yang berharga.

 Apa yang menarik tentang cara memahami dan menganalisis seni yaitu pentingnya prediksi dan hasil penjelasannya. Jadi dalam konteks komunikasi seni , seni memiliki sebuah nilai yang berasal dari komunikasi isi yang dalam karya seni itu sendiri. Dengan mengusung tema ini diharapkan dapat terjalin ikatan komunikasi antara perupa (melalui karyanya ) dan apresiatornya . karena apabila di tilik kedalam seniman cenderung bekerja sendiri, bebas , tidak tergantung dan terikat dalam balutan kepentingan atau tendensi apapun  dan juga cenderung mengutamakan kejujuran , tanpa ada batasan atau gap yang terbentuk karena pemahaman yang sempit sehingga content dalam karya seni nya memiliki suatu nilai yang penting untuk di komunikasikan . 

Dengan keikutsertaan para seniman muda dalam pergelaran pameran ini tentunya memberi warna tersendiri karena dalam penciptaan karya seninya, mereka memiliki ciri khas dalam karya mereka  yang nantinya akan di tunjukkan pada publik agar publik menyadari adanya kemodernan dan kekontemporeran seni rupa saat ini, dan para peserta pergelaran pameran ini tentunya mempunyai sebuah gagasan atau ide mereka yang menarik yang dituangkan melalui konsep yang mereka buat dan dihasilkanlah karya seni untuk di komunikasikan kepada publik.



Seni Rupa Kontemporer Indonesia





SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA



(  Nabila Warda Safitri  )


                Indonesia memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari kesenian di samping itu indonesia juga memilikiberagam kekayaan budaya baik berupa kebudayaan tradisional maupun modern yang tersebar si seluruh wilayahnya mengacu pada kesenian di indonesia bahwa seni sendiri merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan karena seni merupakan salah satu unsur budaya yang hidup di dalam masyarakat. 

Sementara kontemporer sendiri merupakan bagian seni modern dimana sedang berkembang di indonesia pada masa sekarang ini yang dimana dapat dilihat dengan banyak nya karya seni kontemporer yang dibuat oleh para seniman – seniman indonesia pada saat ini. 

            Seni rupa kontemporer sendiri mengacu pada perkembangan seni yang terpengaruh oleh dampak modernisasi dimana istilah kontemporer sendiri  sering diartikan sebagai seni saat ini . 

Istilah ini di gunakan sebagai istilah umum sejak contemporary art berkembang di barat sebagai produk seni yang dibuat sejak perang dunia kedua. Istilah ini berkembang di indonesia seiiring makin beragamnya teknik dan medium dalam memproduksi sebuah karya seni dan juga telah menjadi praktik dari disiplin yang berbeda , pilihan artistik , dan pilihan presentasi karya yang tidak terikat oleh batas – batas ruang dan waktu.

Pada awal 1970-an seni lukis modern mengalami krisis penyebab krisis ini antara lain karena penciptaan karya yang terlalu mudah di tambah lagi dengan jenis karya lukis yang tak telampau jumlahnya , maka timbul kekaburan batas – batas estetika. Sampai akhirnya muncul suatu seruan bahwa segala sesuatu telah sampai pada akhir begitupun yang dikata kan arthur danto dalam the end of art theory dan bilamana karya tersebut akan masih dilanjutkan maka akan  semata – mata hanya berisi kekosongan pada karya dengan tidak adanya makna – makna dalam karyanya, dan di tengah kekacauan inilah seni kontemporer muncul.

Kemunculan seni kontemporer di tandai dengan tidak adanya lagi aturan yang di pakai untuk menghakimi karya seni yang tidak lazim. Aturan – aturan itu adalah apa yang di cari oleh karya itu sendiri maka seniman berkarya dengan bebas tanpa aturan untuk menemukan aturan dari apa yang di lakukannya.

Seni kontemporer tidak peduli dengan estetika bahkan membuang sekali proses estetika. Seringkali karya yang di buat mengagetkan penonton tanpa memperdulikan kesenangan estetik penonton. Sening kontemporer ini juga seringkali tidak bisa lepas dari ideologi politik dan di peralat untuk mementingkan ideologinya, akibatnya banyak karya yang hadir dengan penampilan radikal untuk menarik perhatian.

Seperti itulah seni kontemporer sampai saat ini meskipun seperti demikian masih ada saja apresiasi yang membuat seni kontemporer tetap hidup disisi lain ada kekuatan besar yang menglegitimasinya menjadi sebuah selera. Tentunya selera pasar untuk di beli para kolektor kesenian dengan kreativitas pedagang (seniman) menciptakan kreativitas baru mereka merubah karya seni menjadi layak untuk di jual kepada pembeli (kolektor).

Apabila kita menilik lebih dalam tentang seni rupa kontemporer, istilah kontemporer ini justru menimbulkan kebingungan istilah seni kontemporer sendiri diartikan sebagai seni rupa masa kini atau juga seni mutakhir padahal sebenarnya sudah muncul sejak tahun 50-an.  Pada waktu itu karya seni kontemporer hanya menyangkut nama – nama seperti Picasso , Matisse , Braque, dan lain lain. Di periode berikutnya adalah pendobrakan yang lengkap terhadap asas- asas seni tradisi barat bahkan akhir dari pendobrakan ini menjadi semakin beraneka ragam .

Oleh karena itu di tinjau dari sudut ini seni rupa kontemporer bukanlah konsep tetap melaikan seni rupa kontemporer adalah dimensi waktu yang terus bergulir megikuti arus perkembangan masyarakat pada zamannya.

Kiranya hanya satu indikasi yang bisa di jadikan titik terang istilah seni kontemporer, yakni lahir dan berkembang dalan seni rupa modern. Hal ini dipertegas dalam buku AWAS ! recent art of indonesia : seni rupa kontemporer muncul setelah seni rupa modern.

Berlangsungnya perayaan “Boom seni lukis” di akhir tahun 80-an dan awal akhir 90-an seniman bergerak cepat menembus, melintas batas- batas tradisional negara yang membatasi identitasnya. Kelangsungan seni rupa kontemporer tidak lagi mengusung semangat hebat, pemberontakan dan penyangkalan seperti pendahulunya di tahun 70-an (seni modern) tetapi melangsungkan negoisasi dengan seniman – seniman baru,perubahan – perubahan yang serba cepat , peluang dan tentunya juga gemerlap nya pasar seni rupa.

Setiawan Sabana , tokoh pendidik , perupa mengungkapkan hasil penelitian nya tentang seni rupa kontemporer di asia tenggara bahwasannya yang membedakan antara seni rupa modern dan seni rupa kontemporer adalah sebagai berikut ini :

Seni rupa modern

1.     Memutuskan rantai dengan tradisi masa lalu , pada masa ini tradisi telah menjadi perhatian yang signifikan dan itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu di otak –atik lagi dan cukup dalam museum saja
2.      Adanya high Art dan low Art
3.      Tema – tema sosial cenderung di tolak
4.      Kurang memperhatikan budaya lokal

Seni rupa kontemporer

1.      Tradisi diangkat kembali, misalnya tema lebih bebas dan medianya juga lebih bebas
2.      Tema – tema sosial dan politik menjadi hal yang lumrah untuk di jadikan tema dalam karya seni
3.      Berbaurnya karya seni high Art dan low Art
4.      Masa seni rupa modern kesenian itu abadi maka masa seni kontemporer kesenian dianggap sebgai kesementaraan ( hanya bersifat sementara)
5.      Dulu ada istilah menara gading sekarang merakyat jadi tidak harus / perlu bertahan
6.      Budaya lokal mulai bahkan menjadi perhatian


Selanjutnya ia menyimpulkan bahwa fenomena seni rupakontemporer indonesia merupakan suatu refleksi , pencerminan evaluasi kembali, sikap evaluatif dan pencarian akan potensi – potensi kultural yang baru di negeri ini dan merupakan suatu bentuk kesadaran baru dalam era global.

Dalam seni rupa indonesia istilah kontemporer muncul pada awal 70-an ketika Gregorius Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk memaknai pameran seni patung pada waktu itu.

Suwarno Wisetrotmo seorang pengamat seni rupa , berpendapat bahwa seni rupa kontemporer pada konsep dasar adalah upaya pembebasan dari kontrak – kontrak penilaian yang sudah baku atau mungkin sudah dianggap usang.

Konsep modernisasi telah merambahn semua bidang seni ke arah kontemporer ini. Paling menyolok terlihat di seni tari dan seni lukis , lukisan kontemporer semakin melejit seiring dengan berkembangnya konsep hunian minimalis, terutama di kota – kota besar . seperti yang diungkapkan oleh seniman kontemporer Saptoadi Nugroho dari galeri Tujuh Bintang Artspace Yogyakarta,

“ lukisan kontemporer semakin diminati seiring dengan merebaknya konsep perumahan minimalis terutama di kota- kota besar. Akan sulit diterima bila kita memasang lukisan pemandangan , misalnya sedangkan interior ruangannya berkonsep modern”.

Lahirnya seni rupa konemporer di indonesia juga tidak lepas dari kejadian dimana berangkat dari ketidak-setujuan akan Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yng di adakan di Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki pada desember 1974, sejumlah perupa muda muda protes dengan mengirimkan karangan bunga duka cita atas kematian seni rupa indonesia. Kejadian ini di kenal sebagai desember hitam (1974).

Setahun kemudian perupa – perupa muda itu berkumpul dan berpameran bersam di Taman Ismail Marzuki dengan tajuk Pameran Seni Rupa Baru (1975). Dalam pameran itu mereka mengeluarkan sebuah manifesto tentang apa yang mereka maksut dengan seni rupa baru indonesia dan gerakan ini kemudian di beri nama Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1975-1989).

Beralih dari sejarah seni rupa kontomporer ,Keberagaman karya seni rupa kontemporer  Indonesia sendiri bisa dilihat dari beberapa aspek yaitu, media, teknik, gagasan, dan perupa. 

Aspek media dibagi menjadi dua yaitu media konvensional seperti lukis, patung, dan grafis. Media baru meliputi, instalasi, objek, performance art, fotografi, video, sound art, dan sebagainya. Dalam penciptaannya juga terdapat tekniknya tersendiri dimana Teknik untuk karya dua dimensi meliputi, sketsa, arsir, sapuan, kolase/tempel, cetak fotografi, dan sebagainya. Sedangkan Karya tiga dimensi dapat dikerjakan dengan teknik cor, pahat, las, sambung, jahit, dan sebagainya.

 Gagasan yang diangkat oleh para perupa kontemporer sangat beragam meliputi, sosial politik, ekonomi, budaya, urban, pribadi, agama, hubungan internasional, dan sebagainya.

Seni rupa kontemporer yang memberi kebebasan tanpa batas terhadap penciptaan karya seni rupa menimbulkan pertanyaan terutama yang berhubungan dengan masalah kreativitas.  Konsep kreativitas dalam penciptaan karya seni rupa modernis selalu terkait dengan inovasi dan keaslian. Menurut Stenberg (2002:3), kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan karya yang baru (orisinal) dan yang sesuai (berguna). Harris (2006:73-74), menyatakan bahwa kreativitas artistik adalah, kualitas yang inovatif, inspiratif, dan visioner. Orisinalitas yang dituntut oleh seni rupa modernis sudah tidak sesuai dengan praktik seni rupa kontemporer yang tidak mempedulikan lagi aspek itu.


Seni rupa kontemporer di indonesia juga sangat dipengaruhi oleh semangat individualisme dengan jumlah pelukis yang terlampau banyak maka seni kontemporer itu semakin di padati oleh seni individul karena dalam seni kontemporer tidak seperti pada seni modern yang di padati oleh beragai aliran seni di seni kontemporer sendiri juga terdapat aliran yg dimana akan menjadi cerminan pada karya - karya tiap individu senimannya ia menyadari akan alirannya dan terus ia tekuni dan merasuk dalam penghayatan jiwa , seorang seniman akan memiliki keunikannya karyanya yang selanjutnya akan menjadi cerminan karakter.

Dalam gagasan seni rupa kontemporer gagasan postmodern sangat kental mawarnai kreativitas seniman – seniman nusantara.

Karya seni rupa kontemporer di indonesia memiliki beragam bentuk , jenis ,corak antara lain berupa seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi. Dengan kreativitasnya masing – masing seniman indonesia menciptakan suatu karya seni sebagai perwujudan dari ekspresi jiwanya. Kreativitas seniman telah meramaikan perkembangan seni rupa indonesia , munculnya berbagai karya seni rupa menyebabkan terjadinya komunikasi apresiasi untuk memahami makna yang tersirat dalam karya seni seniman indonesia tersebut.

Apresiasi adalah penghargaan atau penilaian , apresiasi terhadap karya seni rupa dapat diungkapkan melalui sikap empati , kata – kata maupun tanggapan secara tertulis. Beberapa seniman mengkomunikasikan sebuah pesan melalui karya seninya dengan vulgar dan mudah di pahami akan tetapi ada yang mengkomunikasikannya melalui simbol – simbol yang mengandung makna tertentu. 

Kegiatan apresiasi sendiri dapat di golongkan menjadi tiga tingkatan , yaitu :

1.      Apresiasi simpatik adalah meraskan tingkat keindahan suatu karya berdasarkan pengamatan
2.      Apresiasi empatik / estetik  adalah merasakan secara mendalam nilai estetik yang tersirat dalam suatu karya
3.      Apresiasi kritis adalah apresiasi yang disertai analisis terhadap suatu karya dengan mempertimbangkan gagasan , teknik , unsur-unsur rupa , dan kaidah – kaidah komposisi dalam seni rupa 

Dengan adanya apresiasi itulah seni rupa kontemporer di indonesia masih bisa bertahan hingga saat ini mengingat seni kontemporer indonesia merupakan suatu permasalahan yang pelik.

Jumat, 16 Juni 2017

End of Art Theory

THE END OF ART THEORY


NABILA WARDA SAFITRI

                                                                                                           
Apakah sebenarnya benda yang kita sebut seni itu ? , para Filsuf sepanjang sejarah telah mencoba menjawab pertanyaan itu dan membuat banyak teori muncul.

Seperti yang dikatakan Morris Weitz’s Artikel nya “ the role of theory in aesthetic” disini Weitz’s menyatakan 2 argument : yang pertama adalah Generalization argument  disini Weitch membedakan antara konsep umum dan berbagai subconcept dari seni semacam tragedy, novel, lukisan , dll. Dan yang kedua tentang Classification argument yang dijelaskan nya adalah Inti dari kesimpulan weitz’s bahwa sesuatu tidak perlu menjadi artefak melainkan di golongkan sebagai karya seni.
Adapun pendapat lain dari Richard Salvani diman ia tidak setuju dengan pendapat Morris Weitz’s yang dimana Paling sedikit ada 3 arti yang terlihat dari work of art yang pertama yaitu penggolongan seni , yang kedua seni itu harus di karang dari yang asli dan seni bersifat evaluative.

Dengan muncul nya banyak teori tentunya membuat suatu perbedaan pendapat definisi seni pada tiap individu apa yang dimaksud dengan seni . Saya  percaya kita semua  tahu akan seni, untuk mendefinisikan apa yang dibutuhkan seni tentu agar bisa dianggap seni, kita bisa membuat saran yang masuk akal, tapi tidak ada yang cukup untuk dunia kontemporer ini, di mana nampaknya ada yang bisa dipandang sebagai seni.

Saat melihat konsep seni melalui sejarah, jelas bahwa hal itu terus berubah dan sepertinya sangat sulit untuk menuliskan kata-kata yang tepat tentang seni.  Untuk memahami seni saat ini, penting untuk memahami sejarah dan transformasi yang telah dialami seni selama ini.
Selama ada manusia juga  sudah ada kesenian. Beberapa bentuk seni representasional paling awal yang ditemukan adalah lukisan di dinding gua di Prancis (Chauvet-Pont-d'Arc)  sekitar  30.000 tahun yang lalu (Khan Academy, 2014). Lukisan-lukisan ini menggambarkan terutama hewan tetapi juga beberapa manusia. Mereka adalah campuran gambar realistis dan tidak realistis. Sulit untuk mengetahui tujuan lukisan ini, namun di saat bahasa tulisan terstruktur seperti yang kita kenal sekarang tidak ada, dapat diasumsikan bahwa lukisan itu adalah cara menceritakan semotif yang jelas. Yang bermula dengan adanya lukisan lukisan gua tersebut sejarah seni terus berkembang dimana adapun era Avant - garde , Avant garde terjadi pada abad ke-19 di Perancis sosialis (Edwards & Wood, 2004: 2). Istilah Avant-garde telah dianggap memiliki dua tujuan berbeda dalam sejarah seni. Salah satu tujuannya telah dikorelasikan dengan metode untuk menggambarkan suatu pergerakan, yang mengumpulkan urutan '-isms', dari era inilah terjadi perkembangan seni rupa modern yang berangkat dari ism – ism tersebut dimulai oleh pelukis seperti van gogh , paul cezanne , paul gaugin yang melihat bahwa kebenaran alam tidak sama dengan kebenaran seni. Paul cezanne menekankan pada bentuk , segala bentuk baginya  , karya nya yang terkenal yaitu mont sainte-victorie , the great bather. Vincent van gogh karya van gogh ialah pencerminan emosinya. Paul gaugin pelukis yang menggunakan warna cemerang pada setiap karyanya seperti karyanya yg terkenal yesus disalib dan ia berkarya dengan symbolis dimana karya karya simbolis biasa di sebut synthetis kepeloporan tiga seniman tersebut berpengaruh pada paham dan gaya selanjutnya kemudian fauvisme  , yg merupakan aliran gaya seni yang berkembang di prancis  dengan landasan kekaryaan berpegang pada ekspresionis van gogh, dengan peningkatan gaya paul gaugin yg dekoratif dan terpengaruh oleh cezzane pula kemudian berkembang expressionis dimana pada dasarnya adalah pernyataan dari bentuk ungkapan yang anti klasik dan tidak ada hubungan nya dengan seni timur yang misterius maupun odilon redon yg merupakan pelukis simbolik. Berkembangnya Kubisme berawal dari paul cezzane yg mengubah alam menjadi bentuk yg baru  Dan itu menjadi sumber dari kubisme yg merubah bentuknya menjadi geometris seperti yg terjadi pada seniman kubisme yaitu pablo picasso yg terinspirasi kebentukannya oleh negro afrika sclupture dan patung antik iberia di louvre dan ini tidak ada keterkaitannya dengan karya neo impressionis george seurat dan tidk terkait pula dengan rousseau yg merupakan penulis di era romantik. Ada juga Purisme yang merupakan reaksi pemulihan atas kekacauan akibat kubisme, purisme gerakan yang ambisius yang berumur pendek hanya berhasil di bidang arsitektur sedangkan karya seni yg mencapai paris , namun pengaruh terbesar setelah perang adalah datang dari De Stijl , kontruktivisme dan surrealisme dan mesin adalah sesuatu yg penting bagi pengikut purisme (machine esthethic) . Adapun orphisme ialah gaya lukis cenderung abstrak dapat dikatakan juga sebagai murni abstrak  yg berusaha memberi kaegori variasi kecenderungan dalam kubisme yg disebut orphic cubism . Aliran futurisme tergolong aliran seni modern yg cenderung langka yg bermula di italia yg kebanyakan senimannya belajar dari pengaruh george seurat dan juga terpengaruh kubisme juga. Dadaisme memiliki ciri khas penggunaan teknik dan ekspresi yg nonkonvesional sehinggga tampak aneh , karya dadais memang sinis seperti monalisa yg dibubuhi kumis. Surrealisme , surrealisme mencoba mengelabuhi realitas dan kekaryaan nya sejalan dengan dadais yaitu antara tahun 1911-1920 seniman yg berjasa mengembangkannya ialah henri roessau . kemudian prinsip plastis dan filosofis dari pergerakan de stijl sesungguhnya bergerak sendiri bentuk karya piet mondrian merupakan komposisi pertama post kubis dan karya de stijl menerapkan garis vertikal dan horizontal . dalam seni rupa kebentukan aliran abstrak kontruktivisme muncul didasari oleh keadaan yg membelenggu kebebasan seniman sebaai penghinaan rodchenko yg balik menyerang pada tahun yg sama dengan hitam di atasnya hitam yg menjadi simbol matinya aliran seni terutama suprematis  dan yg selanjutnya yang mendasari non geometrical abstrak dan geometrical abstrak.begitulah sekilas perkembangan era avant garde .

Tujuan lain dari gerakan ini bukan untuk menekankan kemandirian seni, tapi malah menggunakan semua sumber dayanya untuk mengubah dunia modern (Edwards & Wood, 2004: 2).

Clement Greenberg memperkenalkan gagasan Avant-garde pada tahun 1939, dalam esainya Avant-garde dan Kitsch, ketika dia mengklaim bahwa seni harus diciptakan demi "kesenian" dan seniman harus berusaha untuk lebih mandiri dari pengaruh agama atau politik (Edwards & Kayu, 2004: 3).

Dengan adanya hal sedemikian rupa disini seni visual telah rusak dengan masa lalu dan telah berkembang dari memiliki fungsi informatika dan menjadi representasi 'alam' di masa di mana orang yang terkena dampak dari apa yang menurut seniman penting dan tidak harus apa yang orang Lain ingin. Seniman kemudian bereksperimen dengan batas-batas seni.

Dan dengan tanpa adanya batas – batas seni yang berkembang seiring dengan waktu muculah sebuah  teori yang menyangku berakhirnya sebuah seni disini Arthur Danto (1924-2013) sebagai "salah satu kritikus seni paling terkenal di era Postmodern."memunculkan  essai nya , "The End of Art",yang dimana pada era sekarang  terus dikutip lebih banyak daripada yang dipahami.


Sebelumnya Danto menggandrungi seni dan filsafat. Dia awalnya memulai karir sebagai seniman (sebagian besar karyanya sekarang merupakan bagian dari koleksi seni Wayne State University) sebelum melanjutkan karir akademis dalam bidang filsafat. Pada tahun 1951, Danto mulai mengajar di Universitas Columbia, mendapatkan gelar doktornya tahun depan. Dia adalah seorang kritikus seni untuk Bangsa antara 1984-2009 dan merupakan kontributor reguler untuk publikasi seperti Artforum.

Pada tahun 1964, Danto mengunjungi sebuah pameran kotak Brillo Andy Warhol di Stable Gallery, New York. Pertunjukan itu mengubah hidupnya.Bukan topik Warhol yang mengejutkan filsuf, tapi bentuknya. Sedangkan lukisan Waroke tentang botol kokas dan kaleng sup adalah representasi visual, patung kotak Brillo artis - spoiler kayu lapis silkscreened dari kotak Brillo sebenarnya - hampir tidak dapat dibedakan dari aslinya. Jika seseorang menempatkan salah satu patung Warhol di samping kotak Brillo yang sebenarnya, siapa yang bisa membedakannya? Apa yang membuat salah satu kotak itu sebuah karya seni dan benda biasa lainnya? Danto menggariskan kesimpulannya dalam sebuah esai berjudul "The Artworld" (1964) :

Pada dasarnya, kotak Brillo Warhol adalah seni karena karya tersebut memiliki khalayak yang di akui secara teori . Dunia seni (terdiri dari kritikus, kurator, kolektor, dealer, dan lain-lain) memainkan peran di mana teori dipeluk atau dilecehkan. Seperti yang Danto duga, "Melihat sesuatu sebagai seni membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata - sebuah atmosfer teori artistik, pengetahuan tentang sejarah seni: sebuah dunia seni." Gagasan ini, yang kemudian diperluas oleh filsuf George Dickie, juga populer. Dikenal sebagai teori kelembagaan seni (Institutional Art Theory). Pertanyaan yang berlama-lama di latar belakang adalah bagaimana dan mengapa , apa yang disebut teori ini berubah dan berkembang dari waktu ke waktu.

Danto terpesona oleh perubahan sejarah. Apa yang membuat kotak Brillo Warhol bisa diterima sebagai seni pada tahun 1964? Pelukis Neo-klasik apa yang Jacques-Louis David pikirkan tentang karya Warhol? Bagaimana Leonardo da Vinci, Phidias, atau manusia gua bereaksi? Apakah kotak Brillo mewakili semacam kemajuan historis seni? Apakah sejarah seni mengarah ke arah yang jelas? Penyelidikan Danto terhadap sejarah, kemajuan, dan teori seni, digabungkan menjadi esai paling terkenalnya, "The End of Art."

Cerita yang Danto katakan di "The End of Art" yaitu Menurut Danto, komitmen untuk mimesis mulai goyah selama abad kesembilan belas akibat kebangkitan fotografi dan film. Teknologi perseptual baru ini membawa seniman untuk meninggalkan peniruan alam, dan sebagai hasilnya, seniman abad ke-20 mulai mengeksplorasi pertanyaan tentang identitas diri sendiri.

Apa itu seni Apa yang harus dilakukan? Bagaimana seharusnya seni didefinisikan? Dalam mengajukan pertanyaan seperti itu, seni menjadi sadar diri. Pergerakan seperti Kubisme mempertanyakan proses representasi visual, dan Marcel Duchamp memamerkan urinoir sebagai karya seni. Abad ke-20 mengawasi suksesi yang cepat dari berbagai gerakan dan 'isme', semua dengan gagasan mereka tentang seni apa yang bisa terjadi. "All there is at the end," tulis Danto, " adalah teori, seni akhirnya menjadi menguap dalam pemikiran murni yang memukau tentang dirinya sendiri, dan tetap, sama seperti objek kesadaran teoritisnya sendiri."

Warhol's Brillo kotak dan Duchamp's readymades menunjukkan kepada Danto bahwa seni tidak memiliki arah yang jelas untuk kemajuan. Narasi besar kemajuan - dari satu gerakan yang bereaksi terhadap yang lain - telah berakhir. Seni telah mencapai keadaan pasca sejarah. Yang tersisa hanyalah teori murn i:

Tentu saja, akan ada pembuatan seni. Tapi para pembuat seni, yang hidup dalam apa yang saya suka sebut sebagai periode sejarah pasca-sejarah, akan menghasilkan karya-karya nyata yang tidak memiliki kepentingan sejarah atau makna yang kita miliki untuk waktu yang lama datang untuk mengharapkan Cerita berakhir , Tapi bukan karakter, yang hidup terus, bahagia selamanya setelah melakukan apapun yang mereka lakukan dalam ketidaktahuan post-narrational mereka , Era pluralisme ada pada kita ketika satu arah sama baiknya dengan yang lain. Mudah untuk melihat bagaimana Danto mulai mendekati kesimpulan ini selama tahun 1960an.

Pergerakan seperti seni Pop dan Fluxus secara aktif meruntuhkan penghalang antara seni dan seni sehari-hari. Filosofi relativis seperti poststrukturalisme dan eksistensialisme terus berjalan, mengkritisi narasi dan kepastian yang pernah dimiliki oleh akademisi Barat. Setelah membuka definisi tentang apa itu seni telah meruntuhkan keyakinannya sendiri akan perkembangan linier. Lagi pula, gerakan atau 'isme' apa yang bisa secara logis mengikuti dematerialisasi benda seni (konseptualisme) atau skeptismeisme dan teori ideologi (postmodernisme) yang meresap?

Danto percaya bahwa gerakan selanjutnya tidak penting karena mereka tidak akan lagi berkontribusi dalam mengejar definisi diri seni.

"Kami memasuki periode usaha artistik yang lebih stabil dan lebih membahagiakan dimana kebutuhan dasar yang senantiasa responsif dapat dipenuhi lagi," tulisnya. Meski Danto mengklaim akhir seni itu sendiri bukanlah hal yang buruk, namun ia tetap kemudian meratapi kematiannya. Dan Danto mengecam keadaan dunia seni tanpa disadari. "Tidak ada gunanya membicarakannya," tulis filsuf itu.

Sementara merancang "The End of Art," Danto "tercengang" untuk beralih ke salah satu sumber paling tidak disengaja, filosofi Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831).

Filsafat Hegel tidak populer selama tahun 60an, namun pemahaman teleologisnya tentang sejarah berfungsi sebagai template yang berguna untuk kesimpulan Danto. Hegel memahami kemajuan sebagai dialektika menyeluruh - sebuah proses realisasi diri dan pemahaman yang berpuncak pada pengetahuan murni. Keadaan ini pada akhirnya dicapai melalui filsafat, meski pada awalnya didahului oleh interogasi ke kualitas agama dan seni. Seperti Danto dirangkum dalam esai kemudian berjudul "The Disenfranchisement of Art" (1984):

Ketika seni menginternalisasi sejarahnya sendiri, ketika hal itu menjadi sadar akan sejarahnya seperti yang terjadi pada zaman kita, sehingga kesadaran sejarahnya membentuk sebagian dari sifatnya, mungkin tidak dapat dihindarkan bahwa hal itu seharusnya berubah menjadi filsafat pada terakhir. Dan ketika melakukannya, tentu saja, dalam arti penting, seni akan segera berakhir.

Setelah tahun 2000, tidak ada gerakan atau -isme, hanya seniman individual. Gerakan yang terdaftar menjelang akhir abad ini sama sekali bukan gerakan. Istilah "YBA" (young british artist) adalah tangkapan yang berguna untuk semua kelompok seniman yang beragam, beberapa di antaranya kebetulan pergi ke sekolah yang sama (Goldsmiths). Demikian juga, "pemasangan" bukanlah sebuah gerakan melainkan sarana penyajian kesenian untuk memastikan bahwa kita hidup dalam zaman yang tidak historis pasca sejarah.

Meski banyak dibaca, teori Danto tidak sepenuhnya dicintai oleh industri seni. Seniman tidak lantas ingin mendengar bahwa pekerjaan mereka tidak memiliki potensi perkembangan. Karya Danto juga menghadirkan tantangan bagi pasar seni yang mengandalkan pentingnya sejarah sebagai titik penjualan yang unik. Dia memperkirakan bahwa permintaan di pasar akan memerlukan "ilusi kebaruan yang tak berujung," yang kemudian mengutip Neo-Ekspresionisme 1980-an sebagai contoh kebutuhan industri untuk terus mendaur ulang dan mengemas kembali bentuk dan gagasan estetika sebelumnya.

Kritikus Danto biasanya menantang kepercayaan filsuf terhadap model sejarah seni tradisional. Dalam Danto dan Kritiknya (yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1993), Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins membahas "kekeliruan sejarah linier," yaitu bahwa narasi sejarah seni pra-dominan kita sebagian besar merupakan produk dari menceritakan kembali mereka.

Jika seseorang menolak perkembangan, narasi seni Barat yang Danto gambarkan di "The End of Art", maka struktur yang dibutuhkan untuk pemahaman Hegel oleh Danto mengenai seni runtuh. Penting untuk dipahami bahwa sejarah seni sebagian besar dibangun berdasarkan bias dan opini subjektif orang lain.

Sebagian besar ilmuwan abad pertengahan kontemporer menolak istilah "Abad Kegelapan" misalnya, karena secara implisit menghakimi dan mengabaikan fakta bahwa seni Kristen awal memiliki urutan yang sama sekali berbeda dari prioritas estetika. Sejarah seni menjadi jauh lebih bernuansa dan kompleks saat dipelajari dalam mikrokosmos. Ketika kita mempertimbangkan kekayaan metodologi yang tersedia bagi sejarawan seni (ikonografi, semiotika, psikoanalisis, dan sebagainya), kesimpulan Danto terlihat semakin sempit dan reduktif.
Danto juga dengan mudah mengecualikan karya yang menantang tesis sejarah seninya, yaitu seni non-Barat. Bagaimana pembuat cetakan Jepang - yang perspektif dan prioritas mimetiknya berbeda secara radikal dari standar Barat - sesuai dengan narasi sejarah seni Danto? Danto memang menyebut cetakan Jepang di "The End of Art", walaupun pertanyaan tentang bagaimana dampaknya terhadap tafsir perkembangan sejarah seni benar-benar terhambat. "Kita harus memutuskan apakah [pembuat cetak Jepang] memiliki budaya pictografi yang berbeda atau hanya terbelakang oleh kelambatan teknologi dalam mencapai soliditas," tulis Danto.

Terlepas dari kritik ini, pendukung Danto berpendapat bahwa teorinya dibenarkan oleh kurangnya arah di dunia seni. Dapat dikatakan bahwa kesimpulan Danto terus berlanjut, bahkan setelah seseorang membagi-bagikan kerangka Hegelian-nya.
           
Sebagai sesuatu yang pada akhirnya berhubungan dengan kreativitas dan rasa abstrak, dan tampaknya membutuhkan makna tambahan di luar penampilan fisiknya saja, tidak mungkin menguncinya menjadi deskripsi yang solid dan statis. Ketika kita mempertimbangkan berbagai interpretasi atau perkembangan konsep seni sepanjang sejarahnya, dan mendapatkan perspektif kritis tambahan untuk mempelajari pendekatan filosofis, kita mulai melihat bahwa sulit untuk diumumkan, 'seni adalah ini'.
Kita bisa mengatakan 'seni adalah ini' pada waktu yang tepat dalam sejarah, atau dalam keadaan lain, tapi kategorisasi seperti ini pada akhirnya tidak menahan air cukup lama untuk dihitung sebagai sebuah konstanta, sebuah undang-undang atau fakta.
Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa seni itu adalah X, Y atau Z, kita bisa menjanjikan seni itu paling tidak 'adalah'. Ini bisa kita setujui, bukan alasan yang paling tidak berarti karena kita sudah melakukannya.     

Bisakah Danto, satu orang di antara miliaran orang lain, lalu benar-benar membuat pernyataan besar seperti itu? Bagaimanapun, ini adalah masalah pendapat di atas segalanya. Meskipun Danto mengajukan klaimnya dengan kefasihan dan keyakinan, dan menawarkan beberapa argumen untuk mendukung pemikirannya, satu orang sama sekali tidak memiliki cukup tenaga kuda di belakang mereka, karena klaim seperti ini tiba-tiba menjadi kenyataan.           

Sampai pandangannya menarik perhatian mayoritas yang tak terbantahkan, atau Danto entah bagaimana memperoleh otoritas tertinggi dalam menentukan perkembangan seni, tidak banyak yang akan keluar dari gagasannya. Seni yang telah meninggal dengan Andy Warhol tidak akan tetap menjadi opini menarik, meskipun dengan konotasi yang menarik dan kata-kata yang mudah diingat karena dalam hal sejarah seni terus berkembang “the end of art” lah yang merupakan diktum umum yang menandai perubahan mendasar itu. Tentu tidak secara harfiah seni itu mati atau berhenti justru sebaliknya diktum itu justru memaksa kita untuk melihat kembali peran seni dalam kehidupan. “the end of art” adalah isyarat perubahan paradigmatik yang serius.     

            Konsekuensi lebih jauh dari situasi itu adalah bahwa kini tak ada lagi paradigmatik terkuat bagi kritik maupun praktik seni yang tentunya membuka jalan ke arah keberagaman artistik dan disaat yang sama pula juga mengarah kepada ketidakpedulian atas kualitas melainkan karya seni sekedar cara berkomunikasi , sudut pandang pribadi yang unik atas suatu objek seolah sudah cukup untuk objek itu di jadikan suatu karya seni.

            Demikianlah seni kontemporer adalah kelanjutan dari avant gardisme yang menekankan kebaharuan , kekinian sesaat, diskontiunitas. Seni merayakan apa yang kontekstual , kehidupan sehari – hari adalah medan dan konteks baru para seniman sebab seringkali ia dilihat sebagai sumber potensi untuk mengubah tatanan nilai – nilai. Karena setelah kematian seni merupakan situasi penuh kreativitas yang lebih luas sehingga pada era kontemporer ini praktik seni rupa kini lebih dalam konteks global yang di tandai dengan interaksi tanpa batas dan refleksi kritis total dan mendasar atas hampir segala hal. Segala hal yang menklaim kebenaran , pengetahuan , moralitas , ataupun nilai.

            Berikut ini beberapa tendensi dalam dunia seni rupa yang bermunculan dari kompleksitas situasi global itu yang sekaligus menjadi tantangan besar bagi proses penciptaan kreatif sebagai berikut ini yang pertama dalam menentukan suatu bobot karya di satu pihak kurator tetap memiliki otoritas untuk menentukan kualitas sebuah karya, di pihak lain pasar pun sangat besar pengaruhnya yang seringkali ukurannya adalah hanya ukuran kuantitatif uangnya seperti halnya ikan hiu yang di awetkan karya damien hirst yang sebetulnya tidak jelas bobot dan makna artistiknya tapi karena seorang pengusaha berani membelinya dengan harga mahal maka otomatis ia di anggap master piece seperti halnya juga pink panther yang seperti boneka yang di jual di pinggir jalan tapi karena kolektor membelinya dengan harga mahal seolah itu menjadi karya besar dalam kenyataannya kolektor atau galery juga memiliki pengaruh yang besar untuk membranding seorang seniman dalam kerangka pasar  karya seni kini memang merupakan komoditi fantastis yang tidak jelas kriteria pemboobotannya.
           
Dengan karya seni yang  dianggap besar  kini tak menuntut kinerja ke kriyaan karena bentuknya bisa berupa apapun kalau pun menuntuk kekriyaan itu kini umumnya menuntut di
kerjakan oleh para artisan alias tukang – tukang. Disini seniman tinggal mengontrol mereka  atau pun mencari ide ide baru saja. Maka yang terpenting dan sentral dalam seni rupa kontemporer kini adalah ide, ide yang baru yang tidak pernah disadari oleh orang- orang oleh karena itu refleksi kritis yang mendalan dan brilliant kini adalah syarat mutlak untuk menjadi seniman besar bukan hanya sekedar keterampilan teknis saja karena keterampilan teknis bisa saja di kerjakan para artisan.     
           
            Bagian terpenting dari ide tersebut adalah sebuah inspirasi. Dunia global yang serba sama dan transparant serng kali membutuhkan persepsi unik , mengejutkan dan tak terduga. Kita memiliki banyak inspirasi bisa dengan menggali inspirasi dari tradisi seperti yang sering dilakukan seniman kini pada umumnya selain itu untuk menguatkan efek dari ide dan konvigurasi visualnya nampak nya kini di perlukan kolaborasi interdisipin.

Seni rupa perlu bekerjasama dengan bidang – bidang lain seperti film , komputer  arsitektur , teather , sains dan lain sebagainya misalnya yang dilakukan oleh para pekerja batik dimana mereka tidak hanya memainkan motif batik pada kain saja melainkan juga pada kayu , karpet dan lainnya yang kemungkinannya masih terbuka secara lebar karena seni rupa kontemporer ini sangat luas yang dimana tidak terikat aturan maupun pakem seni rupa zaman dahulu , tidak ada sekat antar berbagai disiplin seni dan yang berkembang sesuai zaman semua ini tidaklah lepas dari pengaruh karya warhol pada end of art tadi.

             Meninjau seni rupa kontemporer di indonesia juga tidak jauh beda dengan seni rupa kontemporer barat karena pengaruh end of art pun juga masuk pada seni rupa indonesia dimana seni rupa kontemporer indonesia juga menerapkan seni konseptual yang tidak memperhatikan bobot penilaian karya. Di indonesia sendiri pengaruh global pun tidak bisa di hindari karena di indonesia sendiri tidak di batasi dalam menerima informasi bersifat global.
           
Di dalam sejarah seni rupa kontemporer indonesia sendiri berawal dari praktik para anggota Gerakan Seni Rupa Baru dimana karya yang mereka tampilkan cukup beragam dan mulai menampilkan karya instalasi  dan karya – karya drawing yang pada saat itu masih belum lazim dan yang mereka dambakan “kemungkinan berkarya” dalam arti keragaman gaya dalam karya seni rupa indonesia , mebuat seni rupa indonesia dengan kemungkinan – kemungkinan baru , mengakui semua kemungkinan tanpa batasan , sebagai cerminan sikap mencari.
            Keberagaman karya seni rupa Indonesia sejak tahun 1990-an bisa dilihat dari beberapa aspek yaitu, media, teknik, gagasan, dan perupa. Aspek media dibagi menjadi dua yaitu media konvensional seperti lukis, patung, dan grafis. Media baru meliputi, instalasi, objek, performance art, fotografi, video, sound art, dan sebagainya. Teknik untuk karya dua dimensi meliputi, sketsa, arsir, sapuan, kolase/temple, cetak fotografi, dan sebagainya. Karya tiga dimensi dapat dikerjakan dengan teknik cor, pahat, las, sambung, jahit, dan sebagainya. Gagasan yang diangkat oleh para perupa kontemporer sangat beragam meliputi, sosial politik, ekonomi, budaya, urban, pribadi, domestik , agama, hubungan internasional, dan sebagainya.
            Seni rupa kontemporer yang memberi kebebasan tanpa batas terhadap penciptaan karya seni rupa menimbulkan pertanyaan terutama yang berhubungan dengan masalah kreativitas.  Konsep kreativitas dalam penciptaan karya seni rupa modernis selalu terkait dengan inovasi dan keaslian. Menurut Stenberg (2002:3), kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan karya yang baru (orisinal) dan yang sesuai (berguna). Harris (2006:73-74), menyatakan bahwa kreativitas artistik adalah, kualitas yang inovatif, inspiratif, dan visioner. Orisinalitas yang dituntut oleh seni rupa modernis sudah tidak sesuai dengan praktik seni rupa kontemporer yang tidak mempedulikan lagi aspek itu. Fenomena meremehkan orisinalitas sudah cukup lama terjadi pada seni rupa modern seperti terlihat pada karya-karya Pop dari Andy Warhol. Sebenarnya apa bila kita tinjau ulang End Of Art ini sangat berpengaruh dengan era kontemporer saat ini.